#60 Realistis vs Impian

#11 Perspektif Lain

 Perspektif Lain


            Kini, ada seorang makhluk yang terbaring lemah diatas tumpukan busa dan berselimut hangat. Menatap kenangan masa dia sadar. Masa dimana dia bisa tersenyum bahagia jauh dari suara rintihan tangis dari badan yang sakit. Dia dihadapkan pada pernyataan nyata bahwa dirinya telah diberi ujian sakit untuk menghapus sebagian catatan tidak baik terhadap dirinya.
            Balik dari masalahnya sekarang, kilas balik seakan memenuhi ruang kepalanya yang pening. Kehadiran perkataan-perkataan aneh yang kian mengganggu seakan dirinya ingin meminta maaf kepada seluruh isi alam semesta. Sementara bayangan-bayangan yang datang menghantui pikirannya seolah meminta untuk dipedulikan.
            Dari sebuah adegan yang ada di kepalanya. Ada salah satu adegan yang sulit ia lupakan. Sebuah kilas balik yang sangat berarti dimana ada dirinya si pelaku utama. Bukan adegan yang tidak baik menurutnya namun ada perasaan lain yang timbul akibat perlakuannya terhadap peran lain. Peran lain dari tokoh dihadapannya. Suasana mencekam di balik sorot mata tokoh lain tersebut.
            Semula mereka baik-baik saja. Cerita kehidupan mengantarkan mereka pada semua hari yang menyenangkan. Namun, bukan cerita bila tidak ada konflik di tengah. Hari-hari yang mereka lewati cukup rumit. Semua argumen antara keduanya kini telah berbeda. Perasaan egois yang timbul dan datang seolah pembawa bencana.
            Di sini akan sulit menemukan dimana letak kesalahan antar keduanya. Ada satu tokoh dimana ia memang menguatkan argumennya ada juga yang berhenti menyerah karena terkalahkan walau argumen tersebut tidak sama dengan jalan pikirannya. Seakan keduanya tidak ada hubungan yang terspesialkan.
            Namun, pernyataan itu salah. Mereka bersahabat. Hampir hal-hal kecil dilalui bersama. Hal-hal yang ceroboh. Namun sangat menyenangkan mengingatnya. Mereka hampir lupa pernah bahagia dan tertawa bersama. Seakan ada takdir yang terus menerus mempertemukan mereka. Rumit namun pernyataan itu nyata. Mereka saling menyayangi bak sahabat bertahun-tahun lamanya.

Comments