#60 Realistis vs Impian

#24 Depresi

 Depresi




            Suatu hal dimana hati yang semula kokoh nan baik-baik saja mendadak jatuh dan bimbang. Memikirkan sejuta hal disekitar kehidupan. Paling banyak yang dipikirkan adalah suatu masalah. Masalah yang menumpuk atau mungkin berkelanjutan seperti tidak pernah terselesaikan.
            Perasaan itu yang datang tak diundang, pasti ada sebab yang terjadi. Ada suatu masalah yang ringan tapi menusuk. Sampai-sampai dipikirkan lama padahal jawabannya telah ada. Banyak kalimat tanya dan bingung mungkin rancu. Tak selalu menemukan solusi yang cepat.
            Kalian tahu apa hal terburuknya? Hal terburuknya adalah menyalahkan diri atau mungkin menyalahkan sang Pencipta. Astagfirullah. Iya, pernah kan, pasti. Bukan kadang lagi, namun sering. Mengapa aku dilahirkan. Mengapa diriku bodoh sekali. Kenapa aku terlalu baperan. Kenapa aku ga pernah bisa dewasa.
            Kenapa masalah terus datang. Kenapa. Dan hanya ada pertanyaan kenapa. Kata bagaimana untuk menemukan solusi tak pernah muncul. Walau sekejap. Tiada hari tanpa masalah. Waktu yang terukir untuk rehat sejenak, momen itu hilang, dimana rehat sudah terselesaikan. Kembali menjalani masalah yang baru.
            Revisi masalah kebodohan yang dahulu, menjadi kilas balik kebodohan lagi sekarang. Seperti dejavu yang terus menggentayangi pikiran. Rapuh. Hati ini terlalu rapuh. Hati ini bukan terlahir lemah. Namun pertumbuhannya yang lemah. Seperti tidak tumbuh. Kadang merasa bahwa apakah hati ini sudah mati.
            Mungkin banyak orang yang beranggapan. Baperan ih. Gitu aja dibawa rumit. Sedih mulu. Kaku amat hidup lu. Dalam hati terukir, haruskah diri membentaknya. Haruskah diri menjelaskan semuanya. Ha. Tidak kawan. Mungkin kamu bisa berbincang macam tu. Apakah kamu sanggup bila bertukar posisi.
            Barang sejenak, banyak review, banyak kilas balik pada zaman dahulu. Dan, hasilnya nihil. Kebahagiaan itu sesaat, sempit, redup. Terang yang dirindukan, hilang. Dan tidak akan pernah bisa balik. Ini benar-benar jatuh. Hahhhhhhh. Maaf, jikalau diri ini terlalu emosi. Diri ini terlalu bodoh. Diri ini terlalu membuat banyak kesalahan.
            Bahkan ngeri untuk menceritakannya. Lagi. Lagi. Dan lagi. Maaf, pernah bahkan sering tidak mempercayai siapapun. Saking penatnya pernah dibohongi banyak pihak. Bahkan tidak tersumpal perkataan bab sekecil pun. Apa aku pernah berusaha bangkit. Ya sering, saat tangis usai, seringkali berpikir dari sudut pandang yang lain.
            Makanya, kadang ga jujur. Dan mungkin ga akan pernah bisa jujur. Bahwa diri ini tidak baik-baik saja. Diri ini rapuh, mati, kecewa dan bodoh. Dan tak pandai menjelaskan. Hanya dalam raut bahagia tapi menusuk, dan tangisan di dalam renungan hati yang terlalu dalam.

Comments