#60 Realistis vs Impian

#29 Rumah

 Rumah



    Apa kabar dunia. Lihat. Apakah baik-baik saja? Belum. Tentu saja belum. Sedang dalam proses. Entah itu membaik atau tambah condong ke hal yang buruk. Really, i don't care about it. Cukup satu hal saja yang buruk. Yang lain jangan. Tidak perlu semua baik-baik saja. Alur yang terus bergulir, ada fasenya merapuh ada fase bangkit dan bahkan, ada juga susah bangkit.

    Tahap refleksi diri, yang makin hari menjadi. Tempat yang nyaman, belum ditemukan. Belum adanya tujuan untuk rehat sejenak. Waktu yang terus bergulir, memaksa diri untuk ikut andil. Bergerak bagai kuda. Harapan yang diharapkan tak kunjung usai. Melihat fenomena miris saja, lagi-lagi jatuh. Apa kabar tempat singgah? Rasanya seperti hantu. Pergi datang sesuka hati.

    Dilahirkan untuk hidup. Ditekan untuk terus kuat. Ditampar untuk terus bangun. Hari yang biasa aja dilewati. Damai dan cepat. Kerikil yang mengganjal itu, menjadi bukti adanya rintangan yang akan datang. Jika dimulai dengan hati yang sedih. Maka akan berakhir dengan sedih pula. Walau dalam satu frekuensi yang sama, tetap saja Tuhan penuh berekspresi dalam penciptaan-Nya. 

    Pertama, lebah yang mengungkap keresahan, lebah satu yang peduli. Tak ada salahnya medengar. Tak ada salahnya memberi argumen. Tak ada salahnya mengetik solusi. Tak ada salahnya mengakhiri dengan senyuman tipis dan pemberian semangat. Disaat yang sama, melakukan eksekusi percobaan. Feeling untuk gagal benar adanya. Tak satupun dapat digenggam. Sebab. Tiadanya rumah.

    Tiada. Tiada. Tiada. Walaupun ada, tak satu pun punya hal yang sama, dan memahami antar sesama. Aku benci lingkaran. Seketika aku membenci hal yang membuat aku hadir. Hanya sebatas 5k. Damage nya luar biasa. Salahkah aku bertanya? Salahkah aku meminta? Salahkah aku menunggu kabar. Oh lupa. Ternyata bukan siapa-siapa.

     Yang menjadi tempat bersandar diacuhkan. Padahal sudah nyaman. Juga sudah sayang. Sayang untuk kehilangan. Sayang untuk menjauh. Sayang untuk pura-pura tak peduli. Sampai-sampai bosan. Dan naas pada akhirnya. Mereka menemukan cangkang sendiri. Yang mau menampung mereka.

     Sebenernya, bukan sekedar ucapan. Namun tindakan. Bukan sekedar bertanya kabar. Namun juga harus menampung hujan. Sampai saat ini, ternyata rumah belum ditemukan. Hanya tempat singgah sementara, wujud dari pelarian. Abstrak ya hati, membuat semuanya kacau. You have to know. Jangan berharap hal yang tak pasti.

Comments

  1. Aku agak susah membuat kesimpulan tentang tulisan ini. Berkisah tentang seorang yang tak memiliki rumah dalam arti sebenarnya kah? Atau seorang yang dianggap rumah?

    ReplyDelete
  2. Banyak makna tentang rumah. Bagi aku sendiri seseorang bisa menjadi rumah

    ReplyDelete
  3. Jadi ingat rumah masa depan yaitu kuburanšŸ„ŗ

    ReplyDelete

Post a Comment