#60 Realistis vs Impian

#30 Skandal

 Skandal



Awal dari sebuah pokok masalah yang ringan. Tentang hati yang dicampuri etika dan ekonomi. Tentang pilihan yang ditantang pasrah. Tentang alur yang cepat, yang mengerucut menjadi sebuah hubungan. Awal mula pangeran dan tuan putri dilahirkan. Kebersamaan tanpa ketulusan. Keegoisan yang mengalahkan segalanya. Tentang hati yang rapuh, yang terus dipaksa kuat. Tentang konspirasi yang titik temunya belum pernah ditemukan.

Merelakan apa yang sudah pergi. Otak yang ditantang kokoh dalam akademis. Racun dalam buaian mulut yang tiada henti. Dipaksa dewasa dan harus stagnan mengejar mimpi. Pembelaan antar kedua pihak yang tiada habisnya. Dipaksa untuk mengerti. Dalam kesendirian dan tanda tanya. Akhirnya menjadi badut dan ditunjukkan wajah topeng satu persatu. Melihat dengan jelas kesalahan yang terjadi.

Hal demi hal yang harus sempurna, telah dilewati. Berjalan mulus walau banyak jeruji. Keinginan satu persatu terwujud, namun lupa tentang hal penting lain. Fokus yang teralihkan. Membuat semakin bingung, karena ekspektasi tidak pernah berjalan wajar. Selalu ada liku membuahkan misteri. Dendam memang ada, bahkan tergores luka. Hal itu yang terus diingat dan tidak akan sembuh.

Terus bergerak maju, walau banyak yang harus dikorbankan. Banyak yang harus menanggung kesabaran. Ada yang sekedar ingin tau, ada yang sekedar acuh, tak mau tau. Banyak yang berkata, aneh, misterius, gila. Banyak ghibahan menyayat hati. Namun apa peduli. Lalu lalang hanya sekedar tanya hal penting, sesuai kebutuhan mereka, tanpa mau mengerti.

Bilamana mau dihargai, menghargai saja susahnya setengah mati. Harapan demi harapan yang kandas. Sebelum misi terselesaikan. Tidak menuntut, sama sekali tidak. Hal yang lumrah sesama manusia yang butuh kepedulian. Sejatinya, individualis yang mutlak tak akan pernah ada. Kesalahan seharusnya disampaikan, bukan hanya membisu. Lalu menganggap semua nya baik-baik saja. Oh iya, lupa. Kalau kepercayaan sudah runtuh, susah dibangun lagi ya. 

Kecewa mungkin hanya sekali. Tapi berurusan dengan orang itu lagi, mungkin harus berpikir dua ribu kali. Aneh ya, melihat orang pendiam, hanya bisa diam, bahkan saat dunia dilanda bencana. Ups, jangan salah sangka. Raga yang diam, bukan berarti otak tak bekerja. Bahkan ia mengukir rencana. Step by step, akan terjadi, tanpa perlu dipublikasi. Bahkan orang hanya akan bisa melihat dari sisi kiri. Bukan dari sebuah sebuah tangga berduri. Sekian. Selamat menggapai mimpi.

Comments

Post a Comment