#60 Realistis vs Impian

#34 Lembaran Baru

 Lembaran Baru 



        Terkadang butuh banyak waktu untuk menerka. Butuh banyak waktu untuk bermain logika. Butuh banyak ruang untuk menampung beban selanjutnya. Awal yang baik, tak seindah ekspektasi pengharapan akhir yang baik pula. Proses yang melelahkan, harapan yang ada, tak berdampak pada takdir yang sesungguhnya.

        Pilihan memang penting, siapa si yang tak mau memilih, memilih lajurnya sendiri. Membuka pikiran dan hati untuk menentukan langkah yang diambil nanti. Setelah percaya diri terhadap pilihan, apakah puas akan hasil setelahnya yang didapatkan?

        Bahkan tidak ada kemewahan atau keburukan, bukan rasa sedih atau senang, bukan juga ikhlas, tapi lebih menjurus ke pasrah dan kecewa. Pasrah karena bukan memilih keputusan sendiri, kecewa karena hasil dari pilihan keputusan orang lain tersebut tak berdampak baik.

        Teka-teki tak pernah menemui titik temunya. Bukan seperti air terjun yang bergerak pasti, namun seperti danau yang menggenang, jikalau ditumpahi hujan akan sedikit mengembang, tergantung akan itensitasnya.

        Pernahkan bergurau begini, suatu hal yang ada penyebabnya, sampai saat ini masih dipertaruhkan hidup untuk apa? Sudah jelas sebenarnya. Berbagai pencarian yang tak membuahkan hasil, terus diberi kesempatan untuk mencari. Diberi kekuatan untuk bangkit, sebesar apapun badainya.

        Lalu satu persatu yang datang dan pergi itu, untuk apa? Meruntuhkan seketika sebuah lajur? Apakah menyenangkan? Sudah bebas? Damaikah dengan diri sendiri? Atau kah lega dengan statistik hati yang tak pasti? Sudah naik di tahap hangat, lalu anjlok bak di sengaja?

        Hentikan topeng ini secepatnya. Hentikan sebuah keformalan yang penuh tanda tanya. Maaf jika saja perkenalan yang kedua juga hanya sebuah topeng. Namun apa hukum dendam itu tetap berlaku? Skenario ini sudah lenyap. Hanya tersisa kenangan, takdir, keberuntungan nan juga ketidakpastian.

        Tiga huruf yang sangat membuatku kesal. Sangat meresahkan. Nampak baik namun masih diragukan apa yang sebenarnya diperjuangkan. Bayangan yang terus menghantui itu kenapa tidak hilang? Susah sekali. Kata-kata menyeramkan yang entah dari mana, masih terus ada di dalam benak.

        Menurutmu, apa arti sebuah kepedulian? Apa itu sama dengan formal dan topeng yang dipakai? Ketulusan? Bagaimana dengan kata tersebut? Ada? Benarkah? Bahkan kelakuan dan tindakan setelahnya tidak bisa ditebak. Ya, mungkin alasan klise adalah perasaan. Namun apa itu nyata?

        Kalimat diatas penuh tanda tanya, kenapa? Karena kata kunci belum ditemukan. Bukan sebuah ajang pencarian solusi. Namun deskripsi suasana hati yang egois dan menuntut jawaban teka-teki. Dibuat bingung atas perkataan orang lain. Melupakan diri sendiri. Padahal harus fokus dalam pencarian jati diri.

        Semua proses ini berguna kah? Untuk apa? Kebahagiaan? Tidak sama sekali. Hanya sesaat, sepersekian detik. Bahkan satu hari? Impossible. Lembaran baru ini sangat menyulitkan. Bangkit memang kewajiban. Karena diberi rasa syukur untuk tetap bernafas. Walau bangun saja susah. Namun skenario-Nya masih belum berakhir.

        Tidak usah berlari, jika berjalan saja sudah cerdas. Bekerja keras itu penting. Namun jangan lupakan kuncinya. Jangan hilangkan dan tetap berada pada awal usap layar. Fokus.

Comments