#60 Realistis vs Impian

#35 Kesurupan

 Kesurupan



        Jika ada yang bilang kamu sakit, jangan kau dengar. Jika ada yang bilang kamu gila, jangan kau dengar. Banyak omongan yang datang bertanya, ku menolak. Semua ini karena ku ingin kau, pergi. Jika ada yang bilang kau sembunyi, jangan kau dengar. Jika ada yang bilang kau tak baik, jangan kau dengar. Banyak ghibahan yang datang mendekat, ku tak peduli. Semua ini karena ku ingin kau, hilang.

        Indah ya, mungkin awal nya kepercayaan emang dibangun untuk diruntuhkan. Persahabatan itu ga akan pernah terjadi, kecuali atas hal yang ingin dimiliki. Ketulusan tidak pernah ada selagi ada hal lain yang lebih penting. Egoisme selalu dikaitkan dengan rasa. Semenjak terlahir memiliki rasa. Jadi semena-mena akan segalanya.

        Berdiri diatas kaki sendiri, itu penting. Tapi tak berarti jika kau acuh terhadap hal lain. Kata yang kau selalu ceritakan, bahkan kudengarkan. Selalu berpikiran positif, bahkan atas kesalahan sekecil apapun. Selalu kujelaskan pada mereka, tentangmu yang baik-baik saja. Bahkan kesalahpahaman mereka atasmu, tak kugubris. Karena ku terlalu percaya arti persahabatan.

        Dukungan selalu kualirkan di tengah hiruk pikuknya duniaku sendiri. Khawatir, menjadi momok yang selalu ada di pikiran, saat kau dalam kesendirian, takut atau halnya sakit. Bahkan aku seperti patung yang tak bisa apa-apa dari kejauhan, hanya dalam doa sering ku lantunkan.

        Saat kau bilang tak butuh teman, dengan alasan, teman tak ada saat diri jatuh. Wrong. It's wrong. Bahkan kau yang memulai menghilang duluan. Tiada kabar. Diriku seperti pecundang bodoh yang mencari keberadaan manusia gila. Pasrah kah aku? Tidak. Bahkan dimanapun. Kucari. Dan dengan membawa satu tujuan. Kalau kamu mau cerita, aku disini.

        Sejak Desember itu, aku pupus harapan. Rasanya gagal menjadi penolong. Tapi, sedikit lega, akhirnya keputusan mu menghilang kau ambil juga. Aku kecewa. Rasanya aneh. Dirimu sedikitpun tidak pamit. Bahkan aku yang mencari taunya sendiri. Bilamanapun, perpisahan emang pahit. 

        Ambil baiknya saja, dari sisimu, aku belajar arti bangkit. Setelah gema yang ditabuh kencang. Aku belajar mengambil jalan yang indah. Kejujuran walau pahit. Seperti noda kopi, yang sulit dicuci. Luka itu juga. Namun aku senang, kamu bisa sembuh dan melewati pandemi diri mu sendiri atas ulah orang lain dengan baik.

        Semoga yang tersemogakan. Tentang mimpimu yang sangat jujur dan aku suka. Tetap pada titik bahagia dan bangkit ya. Aku berharap banyak bahwa kau mau membalas pesanku, dan kita dapat bertemu lagi. Sekedar berbincang lagu klasik atau mengobrol tanpa arah. Mungkin seperti dulu lagi, bertukar pikiran maupun merancang mimpi.


Comments