#60 Realistis vs Impian

#39 Beralih Makna

 Beralih Makna




        Hanya kata yang bisa menggambarkan maksud. Hanya kata yang berarti menjelaskan. Hanya kalimat-kalimat seakan membawa perubahan. Hanya bacaan ulang sebagai bukti. Hanya waktu yang tercantum meredamkan pembicaraan. Hanya gambar mungil yang kadang salah arti. Tiada lagi gema yang didengar telinga. Tiada lagi emosi yang menggemparkan. Tiada lagi cerita yang dilaporkan. Tiada lagi urgensi saling tukar pikiran.
        Mungkin hal baik akan selalu terjadi. Hal buruk pun selalu mengikuti. Haruskah semua berdasar atas keinginan? Atau hanya sekedar kebutuhan? Lebih buruk lagi, hanya sekedar mengisi waktu luang. Alih demi alih enggan mementingkan yang terpenting. Egokah? Atau peralihan dari makna. Apa semua harus ada alasan tersembunyi?
        Bolehkan menemukan jawaban yang asli? Apa semua peralihan ini adalah topeng? Apa sikap terdepan yang baik harus dibalas dengan baik juga? Bagaimana dengan petinggi, apa sikap mereka berawal dari kampanye keburukan? Apa mereka menangis-nangis karena memohon untuk dipilih? Alasan yang jujur, uang? cih.
        Semua orang berawal dari bawah. Diatas pun mereka sedang diuji. Proses itu butuh waktu. Kurang lebih lama. Menyerah bukan berarti lemah. Lemah pun bukan berarti ditinggalkan. Bertahan. Mengendap-endap tapi dengan hasil yang nyata. Bukan ilusi di depan yang nyatanya berhasil untuk meragukan.
Manis? Sangat manis. Positif? Ya, sangat positif. Dicari pun kesalahan sekecil apapun, bakal nihil kok. Berhasil? Sangat berhasil. Apakah semua pencapaian bakal lepas karena satu hal? Apa yang akan dipertaruhkan? Waktu? Ya jelas. Fisik? Mengikuti. Mental? Bisa kan baik-baik saja? Jawab saja. Sekarang belum bisa. Tunggu hasilnya sepekan depan.
        Takut dan ragu itu hal yang pasti. Meyakinkan juga butuh waktu. Tapi jangan memperalihkan seakan itu benar. Seakan semua selesai hanya dalam satu kurungan. Akankah semua hanya sejalan dengan takdir. Bagian dari anehnya adalah suatu hal yang selalu berhubungan, namun seakan ingin dilupakan.
Jangan ambil hati kalo topeng ini tidak penting. Nyatanya menunggu itu hal yang harus dilakukan. Walau tidak ada kata nyaman lagi, karena semua berawal dari sembunyi. Sembunyi dari hal yang seharusnya tidak sakit, malah jadi sakit. Coba ulangi kata ini. Terbuka bukan berarti peduli. Hanya saja speak up lebih penting daripada memendam. :)
        Satu lagi, pertanyaan dibuat pasti ada jawaban. Berharap jawabannya bakal memuaskan. Walau pedih. Tak akan berangsur lama, karena jawabannya nyata. Bukan hasil yang palsu. Penghargaan dibuat untuk pencapaian. Tapi kali ini, penghargaan dibuat untuk saling menghargai. Keputusan ada ditangan masing-masing. Tanpa peralihan makna.

Comments