#60 Realistis vs Impian

#41 Hati vs Otak

 Hati vs Otak



        Terlebih dahulu, memulai sesuatu yang baru bukankah harus ada perencanaan. Bukankah harus ada skema tata lanjutan untuk kedepannya. Tak disangka suatu hal yang baru tersebut terhenti ditengah jalan bukan karena tidak adanya keberuntungan. Namun perihal langkah awal bagaimana? Apa hanya sekedar coba-coba? Kalau sudah bosan dan muak lalu bakal jadi apa. Sepotong roti basi? Bahkan makanan yang sudah basi masih tuh dikerumuni lalat. 


        Hati adalah salah satu faktor yang penting. Memulai sebuah langkah harus dirasa kan? Bukan hanya menyelam tapi juga harus kenal air dulu. Bila tak diucap kata niat, akankah bisa berlari sekencang kura-kura? Perasaan yang mengganjal itu bukan suatu penghalang bukan. Karena dominan terpentingkan keteraturan niat tersebut. Apa tidak malu sama pohon pisang? Walaupun berbuah nya lama tapi punya detak jantung untuk terus tumbuh.

        Pikiran adalah salah dua faktor yang penting. Bukan sekedar logika dan akal untuk merencanakan. Namun sambungan neuron-neuron yang melangkah ke satu hal yang sama, satu hal yang ingin dituju. Bukan hanya tempat singgah, bukan hanya pelabuhan sementara. Tapi tidakkah punya bahan bakar yang cukup untuk meluaskan layar.

        Gini deh, 2 cerobong asap mungkin tidak dalam satu fungsi kan? pasti ada suatu hal saling bantu-membantu sehingga dapat bekerja secara cermat. Mereka tidak hanya membuang limbah, namun juga menghasilkan produk. Mereka bukan hanya mencetak nominal mata uang. Namun juga berproses mencari solusi setiap masalah yang ada. 

        Ada baiknya adapun buruknya. Mengambil yang baik saja itu sebuah pilihan. Terkadang dari keburukan banyak belajar berbagai hal, yang nyatanya dapat diubah menuju kebaikan. Hati dan otak terkadang pernah tidak sejalan. Apa benar hanya menyalahkan satu makhluk. Apa benar keras kepala itu tidak dapat dirasa?

        Maaf itu perlu, tetapi jangan terlalu sering. Terimakasih masih dibutuhkan, makanya jangan sampai lupa. Jika keduanya saling terbuka, saling menghargai, pasti ada kok jalan pintasnya. Diam itu emas, tapi diam itu racun, membuai omongan jahat dari sisi lain. Rehat dulu, ga harus berpikir cepet-cepet. Ga harus membawa perasaan terus. 

        Kan sudah dibilang, hati yang berlawanan dengan otak, jadinya apa? Meledak? Salah. Tapi stuck. And then, kacau balau rencana-rencana yang telah disusun kan. Coba dayung dengan pelan. Waktu masih banyak kok untuk tetap produktif. Nikmati. Let it flow. Biar ga cepat bosan. Gamau kan berhenti di tengah jalan, lagi, lagi dan lagi? Semangat.

Comments

  1. Hati itu ngikutin nafsu mulu makanya di kasih otak biar bs mikir... Jadi imbang bs memprtimbangkan sebelum melakukan😁👍

    ReplyDelete
  2. hati2 dengan hati kalau tidak kuat iman nafsulah yg menguasainya tapi beda dengan pemikiran jikalau pemikiran jernih nafsu bisa dikontrol.

    ReplyDelete
  3. Emang nggak jarang sih hati dan otak kadang nggak sinkron. Bahkan kadang menjadi lumrah dan biasa saja.

    ReplyDelete
  4. Antara otak dan hati emang terkadang tidak sinkron selalu berlawanan kadang kita mengikuti apa maunya otak namun dihati kadang selalu tidak merasa puas. Hal ini menjadi lumrah

    ReplyDelete
  5. berarti Hati dan Otak minimal harus searah dan sejalan ya

    ReplyDelete
  6. Yap hati juga kadang terlalu naif dan denial

    ReplyDelete

Post a Comment