#60 Realistis vs Impian

#42 Malaikat Baik

 Malaikat Baik



        Ini sebuah kesan, bukan pesan. Tentang jalan yang berliku, tentang kisah yang pilu. Takdir yang menentukan. Salah besar, jika menganggap diri hanya menjadi korban. Tanpa kita tahu, kita menjadi tokoh antagonis di kehidupan orang lain. Selalu berdrama dalam kehidupan nyata. Pantaskah hidup, hanya dari bangkit dari sebuah kata maaf?

        Kesalahan, bukankah manusiawi? Siapa yang berhak menentukan baik benarnya? Apakah hanya logika. Atau kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat. Alasan baru yang tak berdasar ditepis begitu saja. Wawancara demi wawancara, apakah mencari kandidat yang unggul kepribadiannya? Andai saja itu benar, namun nyatanya pembisnis hanya memerlukan apa yang mereka butuhkan tanpa terkecuali.

        Hati terkikis. Semua orang berambisi dengan masing-masing tujuan. Dan.. mereka melupakan kerapuhan hati masing-masing. Apa orang akan selalu kuat dengan jalan pikirannya. Mereka lemah dalam segi hatinya. Penuh, kesal, kecewa, ambisi itu, hanya ego. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau. Dengan syarat, kamu harus gigih dan berkorban bijak dengan apa yang kamu miliki.

        Semua orang mengalami buruknya kegagalan di awal, agar semangat mereka sirna di pertengahan. Buruknya lagi, mereka berhenti meski sudah merangkak kecil. Sementara jika mereka memilih untuk bangun dan berdiri, tumpuan ada. Dan pelangi itu bisa terlihat, walau dari di kejauhan, keindahannya sudah memupuk rencana untuk lebih dekat dengan keberhasilan.

        Boleh kok, mengambil keputusan, setidaknya kerikil yang mengganjal, harus disingkirkan kan? Tanpa takut sendirian. Karena tujuannya adalah memang untuk fokus pada keberhasilan. Tidak mencoba untuk meminum racun, karena sudah tau khasiatnya. Alih mendekati, dari jauh sudah terlihat toxic bukan?

        Jika terlihat naif, maka jangan berlagak baik-baik saja. Semua hal bisa ditipu. Dan penipu besar itu tidak pernah kehilangan akal untuk menipu di lain waktu. Sial. Hanya saja bisa membedakan kan mana yang asli atau tipuan. Andai malaikat tau bagaimana cara mengabarkan dengan baik dan benar. Bukan kah manusia tidak akan pernah salah?

        Terlalu gapapa gabaik buat kesehatan. Setiap hari hanya terfokus pada healing-healing. Bagaimana mau berlari? Apa semua hal itu masalah besar? Bila tidak bisa mengatasi masalah sekecil apapun nantinya. Jangan berusaha menyelam jika tak mau tenggelam. Berjalan saja menyusuri kolam untuk sampai keujung. 

        Sekarang, ada baiknya untuk re-scedule. Tata ulang dengan baik, agar kesalahan tidak terjadi dua kali. Kesalahan lama belum sembuh, masih mau nambah lagi? Random itu bukan tuntutan. Semua orang menuntut keteraturan. Proses itu tidak dinilai, hanya harus dilewati meski perih jatuhnya, susah bangkitnya. Gapai, gapai, gapai. Jangan takut untuk sendiri. Banyak malaikat baik menemani. 

Comments

Post a Comment