#60 Realistis vs Impian

#45 Legawa

Legawa






        Berharap punya hati yang lapang untuk memaafkan. Berharap punya rasa syukur yang stabil agar bisa mengerti sekitar. Berharap masih punya beribu semangat untuk menangani berbagai kasus kehidupan. Berharap mimpi yang dibangun satu-persatu menjadi kenyataan. Berharap bisa tumbuh dan berproses lebih dewasa lagi. Berharap dapat kembali kepada-Nya dengan hati yang damai.
        Jika kita dipaksa untuk menghadapi ujian, itu bukan sebuah hukuman, namun itu alur nya. Alur untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Alur untuk membuka mata kita, sadar bahwa kita sedang hidup. Alur semua insan agar mereka melewati pundi-pundi pahala ataukah dosa. Alur untuk memprediksi apakah kita kekal di surga ataukah neraka.
        Banyak orang beranggapan bahwa, ditimpa sejak dini akan menjadi boomerang di masa tua nanti. Tinggal pelaku nya harus ikut andil. Apakah dia akan memberontak ataukah menyelam ke sudut pandang lain bahwa Tuhan sangat menyayanginya. Bukankah itu sebuah proses untuk menjadi yang terbaik di akhir?
        Emosi memang hal yang wajar dan alamiah, spontan dan menggebu-gebu. Jadi terkadang gabisa buat biasa aja, sama suatu hal tak terduga yang dialami, nangis ya nangis, marah ya marah, kecewa ya kecewa. Tapi apa gunanya terus menerus meluapkan emosi. Tidak sadar bahwa yang terpenting ada di lain hal. 
        Tentu saja, mau ga mau, berdamai itu perlu. Suka ga suka ya harus berjalan. Jika ditekan itu menjadikan lemah, ya lepaskan. Jika amburadulnya hati menjadikan masalah baru, ya kuatkan. Hey, tanpa kamu ketahui, banyak orang yang menginginkanmu jatuh. Agar apa? Mereka bisa mengambil alih hakmu. Dan orang yang saat ini masih di sekitar mu, mereka menginginkan kamu bangkit. Iya kan.    
        Diam bukan berarti tiada langkah. Tertawa bukan berarti menganggap sekedar lelucon. Senyuman bahagia bukan berarti sedang baik-baik saja. Santuy bukan berarti malas bergerak. Oke tenang, pahami, anggun, berpikir, lakukan yang terbaik. Kadang memang banyak yang harus di-gapapa-in, kata tsana. Tapi bukan karena terpaksa lalu terbiasa. Lebih ke suatu hal yang ikhlas, tulus, menerima keadaan seperti halnya legawa. 
        
        
       

Comments

Post a Comment