#60 Realistis vs Impian

#58 Hampa



        Diantara beribu kisah, kisah yang paling sulit dilupakan, namun yang paling singkat, yaitu kisah kita. Kita yang terlahir sedemikian rupa dengan takdir yang sama untuk saling kenal. Ujung-ujungnya bila memang takdir telah diubah, oke baiklah, itu hanya kiasan lalu lalang pergi dan singgah. Kamu yang nomaden, dan aku yang dipaksa menetap. Dan kita, saling tak ingin beranjak dari tempat itu, karena suatu hal.

        Kesempatan, ku pikir hal itu hanya datang sekali. Aku sadar, dengan banyak kesempatan yang terbuang percuma dengan segala hiruk pikuk pemilihan prioritas. Sedih ya, jika hal yang paling diingat itu hanyalah hal-hal yang buruk saja. Karena penyampaian yang terbatas membuat kita saling menekan kata buruk di dalam emosi masing-masing. Menggiring opini yang tidak sehat.

        Aku tahu, semua hal yang terjadi di dunia ini ada faedahnya. Tapi untuk sekarang, sebuah perpisahan sering terjadi. Berulangkali aku tidak mengatakan siapa yang salah, dan siapa yang harus memaafkan. Berulangkali aku juga tidak meminta untuk tetap hadir. Mau gimanapun kalo tidak ada benefit, ya dikucilkan. Maka, banyak orang yang rela harus bekerja keras, demi menuruti sebuah permintaan, atau semacam pemenuhan validasi.

        Bagiku, hal yang berat itu bukan sebuah hubungan. Tapi individu itu sendiri. Orang yang seharusnya ikut andil dalam sebuah ikatan. Terikat dalam ilusi. Merayap, menggali, menembus pemikiran, yang ternyata jawaban nya ya sudah ada di otak sendiri. Ternyata bukan takdir yang menentukan, tapi benefit dan pilihan hati. Entah itu siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri, waktu tak akan bisa diulang kembali. Dan jika harus dirombak, kata terakhir yang tertulis adalah ikhlas paling serius.

        Kini yang akan datang, ya hanya masa depan. Tak perlu lagi mengambil buruknya. Teguhkan kenangan yang baiknya saja. Walau jejalanan menjadi saksi bisu lamunan yang terus berseturu. Menggerogoti berbagai ekspektasi. Menanam dalam-dalam sedih yang telah ditumpahkan. Yang ada sekarang hanya menunggu di lampu merah atau tetap jalan selagi lampu hijau menyala.

        Kita ditantang untuk terus berprogres, walau kadang di dalam kesendirian masih saja ingat. Tidak mudah untuk sekarang, mungkin juga akan selalu tidak mudah. Tapi, sampai sini aku paham, darimu, dariku, dari kita, kita dituntut untuk lebih dewasa. Belajar memahami hal yang terjadi. Karena emosi tidak selalu menang. Hanya keberuntunganlah yang akan tetap ada. 

        Mungkin saat ini aku lemah, lemah karena mu. Tapi tidak baik jika harus selalu pada ujung tanduk. Self harm bukan solusi. Kamu hanya perlu menerima dan menyayangi dirimu sendiri. Mungkin diluar sana, mereka tidak peduli seberapa jatuhnya kamu, mereka tidak peduli seberapa lemahnya kesehatan mentalmu. Seberapa depresi mu. Apakah kamu tersenyum secara tulus atau kepura-puraan, mereka tidak akan pernah peduli lagi.

        Jadi kamu harus selalu ikut andil dalam hidupmu. Jangan cemaskan hal-hal yang akan terjadi secara tiba-tiba lagi. Jangan cemaskan segala hal berantakannya hal kemarin. Semuanya mungkin akan terulang di lain waktu. Tapi pikiran kosong akan selalu kembali menipumu. Kamu hanya perlu dirimu sendiri untuk tetap bangkit seberapa ambruknya kamu. Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Selalu temukan target di setiap langkah.

        Kata hampa yang sekarang terjadi, setelah pemakluman hakiki, itu akan berjalan terus menerus. Isi dengan hal yang baik. Jangan pernah diam untuk sesuatu yang mengganggumu. Tetaplah speak up pada porsinya. Perkuat energi dengan bertemu dengan manusia. Aku tau, kadang memang tidak adil. Lupakan kata adil itu sekarang. Bukan kamu yang akan menentukan hikmahnya. Tapi suatu saat pasti akan indah pada waktunya, seperti yang dikatakan orang-orang. 

Comments